Cara Membuat Blog
PERKEMBANGAN INTERNET
PERKEMBANGAN INTERNETI. PROSES PERKEMBANGAN INTERNET
Internet dideskripsikan sebagai sebuah jaringan dari jaringan-jaringan, yang menggabungkan komputer pemerintah, universitas dan pribadi bersama-sama dan menyediakan infrastruktur untuk penggunaan e-mail, bulletin, penerimaan file, dokumen hypertext, basis data hingga sumber-sumber komputer lainnya. Menurut William F. Slater III, internet didefinisikan sebagai ‘The vast collection of computer networks which form and act as a single huge network for transport of data and messages across distances which can be anywhere from the same office to anywhere in the world’. Melalui jalur elektronik inilah kita dapat bertukar informasi dengan semua tempat yang ada di dunia.
Perkembangan internet dimulai pada tahun 1968 dengan adanya proyek pemerintah Amerika Serikat, the Advanced Research Project Agency Network (ARPANET) yang diciptakan oleh DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) dan BBN (Bolt, Beranek & Newman). Eksperimen yang berhubungan dengan desenstralisasi jaringan komputer yang ada dalam proyek ARPANET inilah yang secara langsung berpengaruh pada struktur internet. Internet yang dapat menyajikan informasi tanpa batas ini telah berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1970.
Di Indonesia sendiri, internet merupakan media komunikasi yang mulai populer di akhir tahun 1990. Perkembangan jaringan internet di Indonesia dimulai pada pertengahan era 1990, namun sejarah perkembangannya dapat diikuti sejak era 1980-an. Pada awal perkembangannya, kehadiran jaringan internet diprakarsai oleh kelompok akademis/mahasiswa dan ilmuwan yang memiliki hobi dalam kegiatan-kegiatan seputar teknologi komputer dan radio. Para akademis dan ilmuwan tersebut memulai berbagai peercobaan di universitas dan lembaga pemerintah dengan melakukan penelitian yang berhubungan dengan teknologi telekomunikasi, khususnya komputer beserta jaringannya. Karenanya, internet hadir sebagai bagian dari proses pendidikan di universitas dan berfungsi memudahkan pertukaran data dan informasi, yang hadir tidak hanya dalam lingkungan kampus/lembaganya saja, melainkan antar kampus dan antar negara.
Pada tahun 1988, pengguna awal Internet di Indonesia memanfaatkan CIX (Inggris) untuk mengakses internet. CIX menawarkan jasa e-mail dan newsgroup hingga menawarkan jasa akses HTTP. Saat itu, pengguna Internet memakai modem 1200 bps dan saluran telepon internasional yang sangat mahal untuk mengakses Internet. Di tahun 1989, Compuserve (AS) hadir dan menawarkan jasa yang sama. Beberapa pengguna Compuserve memakai modem yang dihubungkan dengan Gateway Infonet yang terletak di Jakarta. Saat itu, biaya akses internet dengan Compuserve terbilang mahal, walaupun jauh lebih murah dari CIX.
Kehadiran jaringan internet di Indonesia sendiri diawali perkembangan kegiatan amatir radio dengan berdirinya Amatir Radio Club (ARC) ITB pada tahun 1986. Menggunakan pesawat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 dan komputer Apple II, belasan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) seperti Harya Sudirapratama, J. Tjandra Pramudito, Suryono Adisoemarta dan Onno W. Purbo dibantu oleh Robby Soebiakto, pakar diantara para amatir radio, berhasil mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) -merupakan jaringan e-mail store and forward- yang berhubungan dengan server BBS amatir radio lainnya di seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar. Robby Soebiakto meyakini bahwa masa depan teknologi jaringan komputer akan berbasis pada protokol TCP/IP. Karenanya, Ia membuat teknologi radio paket TCP/IP yang diadopsi oleh para rekannya di BPPT, LAPAN, UI, & ITB dan yang menjadi cikal bakal berdirinya jaringan internet yang bernama PaguyubanNet.
Selain Robby Soebiakto, hadir pula Rahmat M. Samik-Ibrahim yang membangun jaringan Internet di Universitas Indonesia (UI). Muhammad Ihsan yang membangun jaringan komputer menggunakan teknologi radio paket band 70cm & 2m yang dikenal sebagai JASIPAKTA. Selain itu, ada juga Suryono Adisoemarta, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto hingga Onno W. Purbo yang juga memiliki peran penting pada awal pembangunan Internet di Indonesia sejak tahun 1992 hingga 1994.
II. DAMPAK PERKEMBANGAN INTERNET
Dampak Positif :
* Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
* Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
* Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.
* Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi.
* Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain.
* Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan.
Dampak Negatif :
* Pornografi Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak riminal.
* Violence and Gore Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
* Penipuan Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
* Carding Karena sifatnya yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
* Perjudian Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya. # Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face). # Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. # Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang). # Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut. Jadi internet tergantung pada pemakainya bagaimana cara mereka dalam menggunakan teknologi itu, namun semestinya harus ada batasan-batasan dan norma-norma yang harus mereka pegang teguh walaupun bersentuhan dengan internet atau di dalam dunia maya.
III. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN INTERNET
Pemanfaatan Internet sebagai media riset memberikan beberapa keunggulan, di antaranya (Tjiptono, 2000):
1. Konektivitas dan jangkauan global
Di dunia maya, jaringan yang terjalin adalah jaringan global. Dengan demikian akses data dan informasi melampaui batas-batas negara. Contohnya, kita di Indonesia bisa mengakses data CIA (Central Intelligence Agency) Amerika, ABS (Australian Bureau of Statistics), Euro2000, Universitas Harvard, dan jutaan sumber informasi lainnya. Pendek kata, Internet memungkinkan pencliti yang mempunyai fasilitas terbatas untuk mengakses informasi dari database dan perpustaka-an yang lengkap di seluruh dunia. Berbagai jurnal langka yang biasanya susah dijumpai di perpustakaan terlengkap di Indonesia sekatipun, tersedia di jaringan Internet. Selain itu, informasi yang tersedia juga berasal dari beraneka ragam sumber, seperti perusahaan, pesaingnya, universitas, technology providers, institusi keuangan, instansi pemerintah, dan sebagainya.
2. Akses 2.4 jam
Akses informasi di Internet tidak dibatasi waktu, karena dengan lingkup global, dunia maya yang dihadirkan ‘tidak pernah tidur’. Misainya, saat sebagian besar orang di Yogyakarta terielap di tengah malam, masyarakat di New York justru sedang sibuk-sibuknya bekerja. Perbedaan zone waktu sudah tidak lagi menjadi kendala untuk menelusuri data di dunia maya. Responden penelitian yang dilakukan lewat Internet bisa memberikan respon atau jawaban sesuai dengan kondisi dan situasi yang dikehendaki masing-masing individu.
3. Kecepatan
Bila dibandingkan dengan sumber data tradisional, riset melalui Internet jauh lebih cepat, karena bersifat real-time. Kita tinggal mengkilk berbagal icon, selanjutnya tinggal menunggu hasil (tentunya tergantung pada fasilitas modem dan ISP atau Internet Service Provicer yang dipergunakan). Pencarian informasi secara elektronik melalui mesin pencarl (search engines) sangat menghemat waktu, apalagi kalau dibandingkan dengan pencarian lewat katalog perpustakaan atau pencarian buku/majalah/jurnal dirak-rak perpustakaan. Dalam hal sampling, halaman web juga menjanjikan proses yang lebih cepat dan lebih murah.
4. Kenyamanan
Peneliti lewat Internet tidak harus menghadapi berbagai persoalan birokratis, seperti ijin dari berbagai instansi untuk keperluan peilgumpulan data, ‘kerahasiaan’ informasi, dan keharusan untuk datang sendirl keinstansi bersangkutan. Selain itu, berbagai fitur (features) yang dirancang khusus dan user-ftiendly sangat memudahkan peneliti mengakses berbagal situs Internet.
5. Kemudahan akses
Menjamurnya bisnis warnet (warung Internet) di Indonesia (khususnya di kota-kota besar) membuat akses terhadap Internet menjadi lebih mudah. Persaingan antarwarnet dalam hal harga, kecepatan akses, dan fasilitas pendukung lainnya membuat para pengguna Internet lebih nyaman dan mudah memanfaatkan Internet untuk keperluan riset maupun tujuan lainnya.
6. Biaya relatif
Dibandingkan dengan membeli jurnal asli (misalnya McKinsey Quarterly), penelusuran informasi lewat Intemetjauh lebih murah. Apalagi banyak situs yang menyediakan jasa informasi secara cuma-cuma. Peneliti tinggal men-download atau mencetak file/naskah tertentu sesuai kebutuhannya.
7. Interaktivitas dan fleksibilitas
Topik dan hasil riset bisa didiskusikan melalui sarana mailing list atau chatting tertentu. Selain itu, peneliti juga bisa mengikuti perkembangan terbaru atau meminta komentar dan penilaian dari berbagai pihak mengenai hasil penelitiannya.
Terlepas dari keunggulannya, penggunaan Internet untuk keperluan riset juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya (Tjiptono, 2000):
1. Selektivitas dan anonimitas
Salah satu persoalan dalam riset lewat Internet adalah sulitnya mengidentifikasi identitas responden. Setiap orang, termasuk yang bukan target respon, bisa mengisi kuesioner secara on-line tanpa bisa dicegah atau dibatasi. Belum lagi -adanya kenyataan bahwa setiap orang bisa memiliki sejumlah alamat e-mail berbeda dan belum tentu menggunakan identitas asli. Semua ini membuat riset secara on-line harus benar-benar selektif dalam menentukan sampling dan cara responden memberikanjawaban.
2. Clutter dan “never-ending search”
Informasi yang tersedia di Internet sangat besar jumlahnya, namun tidak semuanya dibutuhkan. Pencarian tanpa strategi khusus bisa diibaratkan mencari jarum’ * dalam jerami, sehingga sang peneliti ‘terjerumus’ ke dalam belantara informasi tanpa ujung. Ini sering membuat peneliti pemula di Internet mengalami frustrasi, karena bukannya mendapatkan informasi, tet.api justr’u menghabiskan waktu dan uang untuk pencarian yang tak tentu arah. Selain itu, godaan di Internet relatif amat besar, terutama bagi mereka yang suka menelusuri situs-situs pornografi, yang ujung-ujungnya membuat pencarian informasi menjadi tidak efektif dan lepas kendali.
3. “Virus”
Salah satu masalah yang juga tak katah peliknya adalah risiko terkena virus komputer yang mudah menyebar lewat jaringan Internet, baik lewat e-maii maupun file-file yang di-download. Contohnya, virus ‘I Love You’ yang disebarkan lewat e-mail pernah membuat heboh seluruh dunia.
4. Reliabilitas dan validitas sumber acuan hasil riset
Setiap orang bebas membuka homepage sendiri dan menampilkan berbagai informasi di sana. Implikasinya, tidak semua data dan informasi yang didapatkan lewat Internet andal dan valid untuk dijadikan acuan dalam penelitian. Selain itu, sumber informasi di Internet mudah berubah, misainya homepage yang telah berubah atau bahkan sudah tidak ada lagi. Akibatnya, peneliti harus selalu mencermati perubahan tersebut bila mengutip sumber bersangkutan.
5. Karakteristik demografis pemakai Internet
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Internet lebih efektif untuk menjangkau responden yang termasuk kelompok berdaya beli atau berpenghasilan dan berpendidikan relatif tinggi. Dengan demikian Internet kurang efektif bagi penelitian yang kelompok sampeinya adalah masyarakat golongan menengah ke bawah.
6. Ketergantungan pada jaringan telepon dan Internet Service Provider (ISP)
Fasilitas jaringan telepon dan ISP sangat berpengaruh terhadap biaya pemakaian Internet dan kemungkinan akses secara keseluruhan. Hingga saat ini, biaya penggunaan Internet di Indonesia masih relatif mahal, karena tarif telepon ditentukan berdasarkan pulsa yang digunakan, bukannya atas dasar jumlah panggilan (number of calls). Selain itu, saluran telepon di Indonesia masih relatif lambat, yang pada gilirannya menyebabkan waktu akses menjadi lebib lama dan biaya akses menjadi mahal. Sementara itu, terbatasnya bandwidth sistem transmisi yang disediakan ISP dan banyaknya pelanggan yang mengakses pada waktu bersamaan memperparah akses terhadap Internet.
IV. PARTISIPASI PEGURUAN TINGGI TERHADAP INTERNET
Internet menawarkan alternatif baru dalam pemerolehan informasi dan sekaligus penyebarluasan informasi. Jika sebelumnya, informasi berbasis cetak merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang tersedia format baru dalam bentuk digital melalui Web. Koleksi bahan digital yang ditransmisikan secara elektronik dan disebut perpustakaan digital, keberadaannya semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi pengguna. Di lingkungan perguruan tinggi (PT) di Indonesia, ketersediaan bahan jenis ini semakin dirasakan manfaatnya oleh sivitas akademika yang sebelumnya kurang memiliki akses terhadap publikasi mutakhir dalam bidang mereka. Disamping itu, proses transfer informasi di kalangan sivitas akademika dalam tingkat tertentu berubah karena produser dan pengguna sudah saling terkoneksi melalui internet.
Perpustakaan digital secara ekonomis lebih menguntungkan dibandingkan dengan perpustakaan tradisional. Chapman dan Kenney [1] mengemukakan empat alasan yaitu: institusi dapat berbagi koleksi digital, koleksi digital dapat mengurangi kebutuhan terhadap bahan cetak pada tingkat lokal, penggunaannya akan meningkatkan akses elektronik, dan nilai jangka panjang koleksi digital akan mengurangi biaya berkaitan dengan pemeliharaan dan penyampaiannya.
Di sisi lain, Internet sebagai media dimana bahan digital tersedia, standar dan teknologinya akan terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Palmer [2] menyebutkan ada empat hal yang akan terjadi yang membuat Internet semakin dominan sebagai platform bisnis. Pertama, infrastruktur Internet akan terus diperkuat dan ditingkatkan untuk menyediakan tulang punggung yang berkapasitas tinggi dan aman. Kedua, Internet akan menghubungkan dan mengintegrasikan sistem non-Internet seperti pertukaran data elektronik dan pemrosesan transaksi. Ketiga, Internet akan memungkinkan pengguna mengakses informasi dan pelayanan dari mana saja pada waktu kapan saja menggunakan peralatan pilihan mereka. Keempat, dengan terjadinya ledakan informasi yang tersedia melalui Internet akan tersedia berbagai pendekatan baru untuk menemukan dan mengindeks informasi.
Fenomena di atas sesungguhnya telah dan akan terus berpengaruh pada profesi perpustakaan terutama di lingkungan PT. Pengguna perpustakaan akan semakin tergantung pada bahan digital dengan beberapa alasan seperti biaya, ketersediaan, dan kecepatan pemerolehan. Bahkan pada tingkat tertentu, kemungkinan ketergantungan pada bahan digital akan lebih tinggi dibandingkan terhadap bahan cetak. Oleh karena itu, paradigma bahwa suatu perpustakaan hanya menyediakan informasi cetak harus diubah ke paradigma perpustakaan juga menyediakan informasi digital terutama yang tidak tersedia dalam bentuk cetak. Dengan demikian, pelayanan perpustakaan saat ini menjadi hibrid yaitu mencakup kedua jenis sumberdaya tersebut.
Berkaitan dengan perubahan dan perkembangan di atas, pustakawan di lingkungan PT sudah seharusnya menerimanya dan berusaha menemukan cara untuk meresponsnya secara efektif dan innovatif dalam rangka memenuhi harapan pengguna. Tantangan yang ditimbulkan oleh perkembangan Internet sudah seharusnya pula ditanggapi secara proaktif oleh pustakawan. Bagaimana pustakawan merespons, bagaimana peran mereka berubah, dan bagaimana mereka menyiasati perkembangan tersebut merupakan fokus dari tulisan ini. Apa yang akan diungkapkan sebagian besar didasarkan pada pengalaman penulis sebagai pustakawan PT.
PenggunaanInternet:
Pengunaan Internet di suatu perpustakaan dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Pertama, penyediaan akses yaitu penyediaan sarana dan prasarana dimana pustakawan dan pengguna perpustakaan dapat menggunakan Internet. Dalam hal ini, perpustakaan menyediakan sejumlah komputer sebagai terminal yang terhubung ke Internet. Penyediaan layanan akses ini bertujuan untuk memungkinkan sivitas akademika dapat memperoleh informasi yang bersumber dari Web, yang diperlukan untuk mendukung kegiatan proses belajar-mengajar dan penelitian. Kegiatan ini pada dasarnya sama dengan penyediaan bahan pustaka cetak yang merupakankegiatan rutin suatu perpustakaan tradisional.
Pengguna dapat melakukan sendiri penelusuran, atau dengan memesan bahan yang mereka perlukan kepada pustakawan. Dalam kaitan ini, pengetahuan dan pengalaman pustakawan dalam penelusuran menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan efisiensi pustakawan dan pengguna. Pustakawan sesuai dengan peran dasarnya, dalam menyediakan akses Internet dapat bertindak sebagai pembimbing terutama bagi pengguna baru, konsultan seperti layaknya fungsi pustakawan referens, pengawas untuk penggunaan yang tidak produktif, penelusur berdasarkan pesanan pengguna, diseminator untuk penyebarluasan informasi tentang bahan Web, dan organisator untuk mengorganisasikan bahan-bahan Web.
Kedua, publikasi elektronik yaitu kegiatan untuk mempublikasikan berbagai informasi tentang dan oleh perpustakaan. Dalam hal ini, perpustakaan memiliki dan memelihara sendiri suatu situs Web. Penerbitan Web bertujuan untuk mempublikasikan berbagai informasi tentang perpustakaan dan kegiatannya. Kegiatan ini pada dasarnya sama dengan publikasi berbagai selebaran, brosur, pamflet panduan perpustakaan, daftar perolehan baru, katalog dalam berbagai jenis, dan sebagainya yang biasanya dilakukan oleh sebuah perpustakaan, serta kegiatan publikasi lainnya. Dalam kaitan ini, perpustakaan bertindak sebagai penerbit.
Situs perpustakaan memberi peluang baru bagi pustakawan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tergolong sulit untuk dilakukan. Peluang tersebut diantaranya adalah menerbitkan karya khas PT yang tidak diterbitkan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sebagai deposit PT. Karya tersebut antara lain adalah bahan-bahan oleh dan tentang PT, termasuk diantaranya laporan penelitian, karya tulis, makalah seminar, simposium, bahan-bahan kuliah, dan publikasi PT lainnya. Kegiatan lainnya yang dimungkinkan adalah pelayanan perpanjangan pinjaman sebagai alternatif perpanjangan melalui telepon, konsultasi antara pengguna dengan pustakawan referens, penyediaan hubungan ke sumberdaya Web lain, penerbitan buletin, dan sebagainya.
PerubahanPeranPustakawan:
Pengaruh perkembangan Internet terhadap profesi perpustakaan di masa depan merupakan suatu ketidakpastian. Beberapa penulis mulai berspekulasi bagaimana peran perpustakaan dan pustakawan selanjutnya akan berkembang dengan sejumlah skenario. Creth [3] menyebutkan bahwa nilai-nilai sebagai dasar profesi perpustakaan akan tetap sama Nilai-nilai pelayanan, kualitas, akses universal, dan kerjasama tidak terancam kecuali pustakawan mengabaikannya. Tetapi bagaimana cara nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk operasi dan kegiatan akan mengalami perubahan besar.
Selanjutnya disebutkan bahwa lingkungan dimana pustakawan bekerja akan berubah, dengan ciri-ciri seperti berikut: akses yang lebih besar terhadap jajaran informasi; kecepatan yang meningkat dalam pemerolehan informasi; kompeleksitas yang lebih besar dalam penelusuran, analisis dan mata rantai informasi; perubahan teknologi yang cepat; lemahnya standarisasi perangkat keras dan lunak; belajar terus bagi pengguna dan staf; dan investasi finansial yang lebih besar untuk teknologi.
Berkaitan dengan pengembangan perpustakaan digital virtual, England dan Shaffer [4] menyebutkan bahwa pustakawan mempunyai peluang untuk meluncur dari stereotip masa lalu dan menetapkan mereka dalam lingkungan informasi dan pelayanan masa depan. Peran pustakawan akan beralih dari penekanan pada pengadaan, preservasi dan penyimpanan ke penekanan pada pengajaran, konsultasi, penelitian, preservasi akses demokratis terhadap informasi, dan kolaborasi dengan profesional komputer dan informasi dalam perancangan dan pemeliharaan sistem akses informasi.
Lebih jauh Rader [5] menyatakan bahwa pustakawan sudah seharusnya muncul sebagai pemimpin dalam lingkungan informasi digital dimana format baru informasi dan pengetahuan mulai berpengaruh terhadap proses belajar mengajar dan penelitian. Bahkan pustakawan sudah seharusnya aktif dan terlibat dalam upaya mengubah strategi pembelajaran. Keterlibatan tersebut memberikan peluang kepada pustakawan untuk memfasilitasi keterpaduan informasi digital kedalam kurikulum, menawarkan keahliannya dalam mengajarkan keahlian informasi kepada mahasiswa, membantu dosen menjadi cakap dalam hal format informasi digital, dan menyediakan fasilitas fisik belajar kepada mahasiswa. Fasilitas fisik tersebut termasuk: laboratorium komputer, ruang belajar kelompok, studio belajar kolaboratif, dan studio telekonferens interaktif.
Masih berkaitan dengan peran pustakawan, Rader [5] memperkirakan di masa depan, kualitas pustakawan PT akan diukur dengan basis bagaimana mereka menghubungkan pelanggan dengan informasi dan pengetahuan yang mereka butuhkan, tanpa memperdulikan dimana muatan (contents) dapat ditemukan. Pustakawan akan diukur dalam hal bagaimana mereka memenuhi kebutuhan informasi dan kebutuhan belajar mahasiswa. Pustakwan akan dilihat sebagai mitra pengajar dengan dosen untuk membantu mahasiswa berkembang ke arah konsumen informasi yang efektif.
PerubahanLingkunganKerja:
Dari perspektif pelayanan pengguna, perpustakaan PT harus memperkenalkan suatu pelayanan baru yang berkaitan dengan akses sumberdaya informasi dan publikasi melalui Web. Perpustakaan USU misalnya memperkenalkan layanan digital untuk maksud tersebut. Layanan digital berfungsi menyediakan fasilitas dan bimbingan penggunaan Internet, mengidentifikasi berbagai sumberdaya yang tersedia melalui Internet dan menyebarluaskannya kepada kelompok pengguna, melakukan penelusuran atas pesanan pengguna, dan mendigitalisasi bahan-bahan khas PT untuk dipublikasikan melalui situs perpustakaan dan memeliharanya.
Penyediaan fasilitas dan bimbingan Internet tidak sama dengan penyediaan warung Internet untuk umum. Penyediaan terminal dan bimbingan di perpustakaan ditujukan untuk pemerolehan bahan digital yang dibutuhkan oleh sivitas akademika untuk mendukung tugas-tugas mereka. Oleh karena itu tata ruang, prosedur, dan pengawasannya harus dirancang sedemikian rupa agar penggunaan Internet sesuai dengan misi perpustakaan. Penggunaan fasilitas ini dapat dipungut biaya hingga 50% dari tarif umum. Pembebanan biaya tersebut perlu dilakukan untuk menghindari penggunaan yang tidak produktif dan untuk mengontrol efisiensi waktu pengguna.
Pengidentifikasian dan penyebarluasan sumberdaya informasi Web dapat dilakukan oleh pustakawan yang ditugaskan khusus untuk itu. Kegiatan ini ditujukan untuk membantu kelompok pengguna biasanya didasarkan pada program studi yang ditawarkan oleh PT. Penyebarluasannya dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan membuat hubungan dari situs perpustakaan dan menerbitkan buletin baik melalui Web maupun dalam bentuk cetak, seperti penerbitan Info Digital oleh USU. Pengguna kemudian dapat melakukan penelusuran sendiri atau memesan artikel yang mereka butuhkan melalui pustakawan. Untuk pemesanan dapat dikenakan biaya cetak untuk menghindari kemungkinan terjadinya pemborosan pencetakan teks atau gambar yang mungkin tidak diperlukan.
Pendigitalisasian bahan-bahan khas PT yang tidak diterbitkan dalam bentuk cetak dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi perpustakaan dalam hal penyimpanan dan pemeliharaan fisik dokumen, memudahkan penggunaannya, dan sebagai upaya perpustakaan untuk ikut meningkatkan kualitas karya sivitas akademika dengan mempublikasikannya secara luas, serta berbagi sumberdaya informasi dengan institusi lain. Untuk efisiensi perpustakaan, pengaturan di tingkat PT perlu dilakukan agar karya tersebut diserahkan ke perpustakaan dalam bentuk berkas komputer. Bahan lama secara bertahap dapat dialihkan ke dalam bentuk digital yang siap untuk dimuat di dalam server Web.
Dari perspektif tugas pustakawan, penyediaan terminal Internet dan publikasi Web akan mendorong peningkatan profesionalisme, efisiensi dan moral kerja pustakawan. Beberapa bidang pekerjaan pustakawan saat ini memerlukan fasilitas terminal Internet untuk mengakses informasi yang mereka perlukan. Sebagai contoh, pustakawan referens memerlukannya untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan referens; pustakawan pengadaan memerlukannya untuk mencaritahu data terbitan yang tersedia di pasar dan untuk pemesanannya; pustakawan pengatalogan memerlukannya untuk mencari dan bila mungkin mendownload data bibiliografis untuk cantuman katalog; dan pustakawan sistem memerlukannya untuk mengikuti perkembangan dan mendapatkan perangkat lunak yang diperlukan oleh perpustakaan.
Disamping itu, hampir seluruh bidang pekerjaan pustakawan memerlukan media Web untuk mempublikasikan berbagai produk yang mereka hasilkan. Sebagai contoh, pustakawan pengadaan memerlukannya untuk mempublikasikan daftar peroleh baru bulanan; pustakawan pengatalogan dapat membuat cantuman katalog sekaligus berbasis Web untuk dimuat pada server Web perpustakaan; pustakawan pelayanan pengguna memerlukannya untuk mempublikasikan berbagai jenis pelayanan yang tersedia dan kebijakan perpustakaan yang berkaitan dengan pelayanan; dan manajemen perpustakaan memerlukannya untuk mempublikasikan perkembangan, rencana dan program, dan dokumen-dokumen lainnya yang dipandang perlu untuk diketahui oleh publik dalam rangka meningkatkan partisipasi dan dukungan mereka dalam pengembangan perpustakaan.
PengaruhTerhadapAnggaran:
Penyediaan layanan digital seperti layaknya pengenalan suatu pelayanan baru memerlukan pendanaan baik untuk investasi awal maupun operasionalnya. Berapa besar biaya yang diperlukan adalah tergantung pada berbagai faktor diantaranya infrastruktur dan prasarana yang tersedia, jumlah terminal layanan akses yang akan disediakan, jenis server yang akan digunakan, dan tenaga pengembang yang tersedia di lingkungan PT. Dalam pemanfaatan teknologi informasi seperti pengautomasian perpustakaan di Indonesia, investasi yang digunakan untuk perangkat keras jauh lebih besar dibandingkan untuk perangkat lunak. Hal ini berbeda dengan di negara lebih maju, biasanya investasi yang digunakan untuk keduanya berimbang, bahkan pada kondisi tertentu lebih besar untuk perangkat lunak.
Sumber pendanaan untuk layanan digital berasal dari anggaran perpustakaan atau anggaran PT yang dialokasikan untuk perpustakaan. Perpustakaan harus mengalokasikan biaya pengadaan peralatan komputer dan peralatan pendukung lainnya dalam anggaran pendapatan dan belanja tahunannya. Perpustakaan USU misalnya menerapkan kebijakan penggunaan anggaran dengan pola 25, 50, dan 25 masing-masing untuk belanja pegawai, belanja bahan pustaka, dan belanja peralatan dan pemeliharaan. Pengadaan dan pemeliharaan peralatan komputer besarnya sekitar 12,5% dari anggaran perpustakaan setiap tahunnya. Hal ini memang akan menjadi sulit, jika suatu perpustakaan PT tidak mengelola sendiri anggaran belanjanya seperti kebanyakan perpustakaan di Indonesia.
Pengadaan peralatan komputer dan pemeliharaannya merupakan kegiatan rutin tahunan. Tidak diperlukan investasi khusus untuk pengadaan peralatan tersebut, tetapi diperlukan restrukturisasi anggaran. Sebagai contoh, kalau sebuah perpustakaan menggunakan 50 unit komputer, maka setiap tahun perpustakaan harus membeli sedikitnya sepuluh unit komputer baru untuk menghindari investasi yang besar pada suatu waktu tertentu. Ini penting agar kualitas pelayanan tidak menurun, karena teknologi komputer hanya efektif digunakan untuk jangka waktu maksimal lima tahun. Pengembangan pelayanan berbasis teknologi informasi dapat dimulai dengan peralatan yang sederhana, tidak diperlukan investasi awal yang besar. Keberhasilannya kemudian sangat tergantung pada visi dan kreatifitas pustakawan PT.
Pelatihan:
Perpustakaan digital membutuhkan pustakawan digital. Koleksi digital harus dipilih, diadakan, diorganisasikan, dibuat siap akses, dan dipelihara. Pelayanan digital harus direncanakan, diimplementasikan, dan didukung. Walaupun komputer merupakan peralatan utama yang penting dimana perpustakaan digital dibangun, tetapi sumberdaya manusia dibutuhkan untuk menyatukan semuanya dan menjadikannya berjalan. Pustakawan digital harus memiliki kualitas personal tertentu daripada memiliki keahlian teknis yang dapat dipelajari. Hastings [6] menyebutkan beberapa kriteria sebagai pustakawan digital yaitu: harus mampu berkembang dalam perubahan, membaca terus-menerus tetapi selektif, dan bereksprimen tanpa akhir. Mereka harus mencintai belajar, mampu mengajar diri sendiri, dan berani mengambil resiko, serta memiliki keuletan terhadap potensi dan kesukaran teknologi.
Untuk menyiapkan pustakawan digital, perpustakaan harus menyeleksi tenaga potensial untuk mengikuti pelatihan singkat tentang pengelolaan Web. Materi yang dipelajari, seperti yang dilakukan oleh IDL (Institute on Digital Library Development) University of California Berkeley mencakup: pengenalan pengembangan perpustakaan digital, pengenalan teks terstruktur, fitur HTML (tables, forms, image mapping, style and design), kriteria preservasi dan akses seleksi untuk didigitalisasi, penanganan citra, photoshop, membuat citra untuk Web, OCR, akses perpustakaan digital, pengideksan, dan pangkalan data. Pelatihan tersebut disertai dengan kegiatan laboratorium dan berlangsung selama lima hari penuh.
StrategiPengembangan:
Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasi empat isu strategis berkaitan dengan pengembangan strategi pendayagunaan Internet oleh perpustakaan di lingkungan PT seperti berikut ini. Pertama, penyediaan sarana layanan akses Internet merupakan suatu keharusan untuk mendorong peningkatan pemanfaatan Internet yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas dan produktivitas sivitas akademika. Kedua, publikasi elektronik dengan pengembangan perpustakaan digital mampu mendorong peningkatan kualitas karya yang dihasilkan oleh sivitas akademika, peningkatan pemanfaatan produk tersebut oleh masyarakat luas, dan peningkatan fungsi berbagi sumberdaya dengan institusi lain. Ketiga, penyediaan infrastruktur Internet di dalam kampus mampu meningkatkan efisiensi penyediaan layanan akses dan publikasi elektronik disamping fungsi komunikasi dan sistem informasi manajemen. Keempat, kolaborasi antara pusat komputer dan perpustakaan sesuai dengan fungsinya masing-masing sebagai penyedia infrastruktur dan muatan, mampu mengembangkan suatu pelayanan informasi berbasis Web yang sesuai dengan harapan sivitas akademika.
Berdasarkan isu strategis seperti dikemukakan di atas dapat dirumuskan strategi pengembangan pendayagunaan Internet oleh perpustakaan. Setiap perpustakaan PT memiliki strategi pengembangan yang berbeda satu sama lain, tergantung pada kondisi awal masing-masing perpustakaan. Belajar dari pengalaman perpustakaan lain dapat membantu dalam perumusan strategi yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam perumusan strategi tersebut antara lain adalah: berapa besar perpustakaan digital yang akan dibangun; muatan apa saja yang menjadi kebutuhan akses di dalam kampus; komponen apa saja yang akan dibutuhkan; siapa saja praktisi yang mempunyai keahlian, pengguna, pengembang, tenaga teknis yang akan disertakan dalam pengembangan; dan fungsi-fungsi apa saja yang dapat didukung secara lokal atau apa saja yang harus dipasok oleh pemasok.
Berikut ini adalah beberapa strategi pengembangan yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan oleh perpustakaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing PT. Pertama, perpustakaan harus menyediakan fasilitas layanan akses Internet dan mensosialisasikan penggunaannya kepada sivitas akademika. Kegitan ini dapat dimulai dengan peralatan dan infrastruktur yang telah tersedia. Tetapi yang terpenting adalah pensosialisasian fungsinya sebagai sarana untuk pemerolehan bahan digital yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pustakawan harus aktif dan dengan sungguh-sungguh membantu menemukan bahan-bahan yang dibutuhkan atau diperkirakan dibutuhkan baik atas inisitif sendiri maupun atas permintaan pengguna. Dalam hal ini, peran pustakawan sebagai mitra sivitas akademika yang handal dalam penelusuran literatur harus dibuktikan. Tingkat pemanfaatan pelayanan ini akan menjadi alasan yang penting dalam upaya untuk pengembangan selanjutnya. Upaya untuk mempengaruhi kebijakan pimpinan dalam hal pentingnya pengembangan pelayanan ini didasarkan pada angka penggunaannya. Kepuasan pengguna akan menjadi iklan gratis untuk mendorong peningkatan dukungan untuk pengembangan pelayanan.
Kedua, perpustakaan harus mulai mengupayakan pembuatan home page atau situs perpustakaan dan memuat berbagai informasi tentang perpustakaan. Situs yang sederhana dapat dikembangkan sendiri dan dimuat di server Web PT atau komersial sebelum perpustakaan memiliki server sendiri. Kegiatan ini, walaupun sebagai eksperimen, akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pustakawan dalam pengembangan dan pemeliharaan situs Web. Disamping itu, pengalaman yang diperoleh akan mendorong kesungguhan pustakawan untuk mengembangkan pelayanan berbasis Web.
Ketiga, pustakawan harus berbicara dalam forum PT, melakukan pendekatan dengan berbagai pihak, dan membuat proposal pengembangan, serta berupaya melibatkan diri dalam pengembangan dan pemanfaatan infrastruktur Internet di dalam kampus. Rencana pengembangan hendaknya memuat berbagai alternatif yang mungkin dilakukan dari yang sederhana dan murah hingga yang lebih canggih dan mahal. Pustakawan harus mengidentifikasi kebutuhan perpustakaan dan memberikan saran-saran dalam pengembangan infrastruktur Internet kampus. Dalam pemanfaatannya, pustakawan harus mempertimbangkan penyebaran titik pelayanan perpustakaan, misalnya pembukaan dan peningkatan peran cabang-cabang yang dekat dengan pengguna dan tersedianya pustakawan yang dapat berperan layaknya spesialis subjek bahan digital. Pertimbangan lainnya adalah penyediaan sejumlah outlet di dalam perpustakaan dimana sivitas akademika dapat mecolokkan sambungan komputer laptopnyauntukmenggunakanInternet.
Keempat, perpustakaan mulai mengembangkan perpustakaan digital apabila infrastruktur dan peralatan yang diperlukan sudah tersedia. Dalam fase persiapan, pustakawan harus mampu mengidentifikasi sumberdaya yang tersedia di dalam kampus terutama sumberdaya manusia yang dapat dijadikan mitra dalam pengembangan. Kolaborasi sebagai hubungan formal dalam proses pengembangan mulai dari formulasi ide, perancangan, pengujian produk hingga implementasi adalah sangat penting. Kolaborasi dengan pusat komputer atau unit lain atau pihak swasta dapat dilakukan jika memungkinkan. Keterlibatan pengguna baik dosen maupun mahasiswa dalam perancangan akan memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
http://senanktruzz.ngeblogs.com/2009/11/21/perkembangan-internet/
Sejarah Internet dan Perkembangannya
Internet adalah jaringan komputer yang saling terhubung ke seluruh dunia tanpa mengenal batas teritorial, hukum dan budaya. Secara fisik dianalogikan sebagai jaring laba-laba (The Web) yang menyelimuti bola dunia dan terdiri dari titik-titik (node) yang saling berhubungan.
Node bisa berupa komputer, jaringan lokal atau peralatan komunikasi, sedangkan garis penghubung antar simpul disebut sebagai tulang punggung (backbone) yaitu media komunikasi terestrial (kabel, serat optik, microwave, radio link) maupun satelit . Node terdiri dari pusat informasi dan database, peralatan komputer dan perangkat interkoneksi jaringan serta peralatan yang dipakai pengguna untuk mencari, menempatkan dan atau bertukar informasi di Internet.
Menurut Lani Sidharta (1996) : walaupun secara fisik Internet adalah interkoneksi antar jaringan komputer namun secara umum Internet harus dipandang sebagai sumber daya informasi. Isi Internet adalah informasi, dapat dibayangkan sebagai suatu database atau perpustakaan multimedia yang sangat besar dan lengkap. Bahkan Internet dipandang sebagai dunia dalam bentuk lain (maya) karena hampir seluruh aspek kehidupan di dunia nyata ada di Internet seperti bisnis, hiburan, olah raga, politik dan lain sebagainya.
Drew Heywood (1996) menerangkan : sejarah Internet bermula pada akhir dekade 60-an saat United States Department of Defense (DoD) memerlukan standar baru untuk komunikasi Internetworking. Yaitu standar yang mampu menghubungkan segala jenis komputer di DoD dengan komputer milik kontraktor militer, organisasi penelitian dan ilmiah di universitas. Jaringan ini harus kuat, aman dan tahan kerusakan sehingga mampu beroperasi didalam kondisi minimum akibat bencana atau perang.
Tahun 1969 Advanced Research Project Agency (ARPA) dibentuk tugasnya melakukan penelitian jaringan komputer mempergunakan teknologi packet switching. Jaringan pertama dibangun menghubungkan 4 tempat yaitu : UCLA, UCSB, Utah dan SRI International. Hingga tahun 1972 jaringan ini telah menghubungkan lebih dari 20 host dan disebut sebagai ARPANet. ARPANet kemudian menjadi backbone Internetworking institusi pendidikan, penelitian, industri dan kontraktor terutama yang berkaitan dengan jaringan militer (MILNet).
Tahun 1986 ARPANet mulai dikomersialkan dengan mengisolasikan jaringan militer. National Science Foundation (NFS) kemudian membiayai pembongkaran backbone ARPANet menjadi backbone Internet komersial dan dikelola oleh Advanced Network Service (ANS). Andrew S. Tanenbaum (1996) : andil besar dalam perwujudan Internet adalah tergabungnya jaringan regional seperti SPAN (jaringan fisika energi tinggi), BITNET (jaringan mainframe IBM), EARN (jaringan akademis Eropa dan digunakan pula di Eropa Timur) dan ditambah dengan sejumlah link transatlantik yang beroperasi pada 64 Kbps – 2 Mbps pada tahun 1988.
Menurut Khoe Yao Tung (1997), jaringan pendukung Internet di seluruh dunia adalah :
- Amerika didorong oleh NFS – ANSNet dan CO+RE (jaringan non profit terbatas) yang bekerjasama dengan Commercial Internet Exchange (CIX) serta Sprint (perusahaan telekomunikasi umum) tahun 1990. Pengesahaan RUU NREN (National Research and Education Network) oleh Kongres Amerika pada Desember 1991. Ditambah 8 aliansi jaringan regional yang tergabung dalam The Corporation for Regional an Enterprise Networking (CoREN) yaitu : BARRNet, CICNet, MIDNet, EARNet, NorthWestNet, MYSERNet, SURANet dan WestNet. CoREN bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi komersial MCI.
- Kanada dengan jaringan backbone nasional CA*Net
- Australian Academic and Research Network (AARNET)
- The Europe Backbone (EBONE) dan The European UNIX Network (EUNet) dan RIPE organisasi jaringan e-mail Eropa
- Jepang memiliki Widely Integrated Distributed Environtment (WIDE), Today International Science Network (TISN), Japan Academic Interuniversity Network (JAIN) dan Japan UNIX Network (JUNET). Kebanyakan bekerjasama dengan jaringan telekomunikasi komersial AT&T perwakilan Jepang yang disebut dengan SPIN. Pelayanan lain yang bersifat internasional adalah InterCon International KK (IIKK) dan Internet Initiative Japan (IIJ) yang berasosiasi dengan WIDE untuk menyediakan jaringan Internet dikawasan Asia, termasuk jaringan penelitian dan pendidikan untuk kawasan Asia (disponsori oleh NEC, IIJ dan WIDE) yang disebut AI3 (Asia Internet Interconnection Initiative) yang mengembangkan teknologi satelit komunikasi Ku Band
- Belakangan muncul ABONE (Asia Backbone) yang didirikan oleh konsorsium negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea, Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Hongkong. Interkoneksi dunia tersebut memakai jaringan serat optik antar benua berkapasitas + 45 Mbps. (T3 +) dan jaringan satelit telekomunikasi.
Protokol TCP / IP
Salah satu isu terpenting di Internet adalah penerapan Standar Komputasi Terbuka (Open Computing Standard). Karena Internetworking dan Internet mengintegrasikan semua sistem, jenis dan tipe komputer yang ada di dunia, maka harus ada standar yang menjamin komputer dapat saling berbicara satu sama lain dalam bahasa yang sama. Menurut Drew Heywood (1996) : standar bahasa komputer universal telah dikembangkan sejak 1969, terdiri dari serangkaian protokol komunikasi disebut Transfer Control Protocol yang bertugas mengendalikan transmisi paket data, koreksi kesalahan dan kompresi data dan Internet Protocol yang bertugas sebagai pengenal (identifier) dan pengantar paket data ke alamat yang dituju.
Protokol TCP / IP menyatukan bahasa dan kode berbagai komputer di dunia sehingga menjadi standar utama jaringan komputer. TCP / IP berkembang cepat dan kaya fasilitas karena bersifat terbuka, bebas digunakan, ditambahkan kemampuan baru oleh siapapun dan gratis karena tidak dimiliki oleh siapapun. Menurut Khoe Yao Tung (1996), Drew Heywood (1996) dan Andrew S. Tanenbaum (1996) fungsi utama protokol TCP/IP adalah :
- File Transfer Protocol (FTP) yaitu fasilitas transfer file antar komputer
- Surat elektronik (E-mail) atau fasilitas surat menyurat antar komputer yang terdiri atas Simple Mail Transfer Protocol (SMTP) sebagai dasar komunikasi email, Multi Purpose Internet Mail Extensions (MIME) yaitu standar format biner grafik, dan suara agar dapat ditransmisikan melalui e-mail, Post Office Protocol (POP) yaitu sistem penerima e-mail, Network News Transfer Protocol (NNTP) sarana pertukaran berita, artikel dan diskusi melalui e-mail
- Emulasi terminal jarak jauh (Telnet, Remote Login) yang memungkinkan suatu komputer (client) untuk masuk dan mengendalikan host yang terletak jauh darinya, misalnya pada network yang lain atau di Internet
- Simple Network Management Protocol (SMNP) yaitu protokol pengendalian peralatan network jarak jauh. Drew Heywood (1996) menyebutkan : fungsi utama itu masih diikuti dengan fasilitas Domain Name System (DNS) yaitu metode penamaan dan pengalamatan suatu network berdasarkan kelompoknya.
Sedang Andrew S. Tanenbaum (1996) memberi pengertian fungsi secara singkat : aplikasi TCP / IP menghasilkan 4 fasilitas penting E-mail, News, Remote Login dan Transfer File. Semula tampilan Internet masih berupa teks murni, revolusi terjadi ketika WEB atau World Wide Web (WWW – tampilan grafis dan multimedia di Internet) diperkenalkan.
WEB dan HTML
Menurut Sampurna (1996) : WEB adalah sekelompok kode berbasis teks yang sederhana dan universal, disebut Hypertext Markup Language (HTML). Karena berbasis teks, HTML dikenali dan diterjemahkan segala jenis komputer dalam bentuk tampilan informasi yang sama. HTML adalah kreasi Tim Berners Lee, ilmuwan European Laboratory for Particle Physics (CERN – organisasi penelitian 18 negara Eropa) di Geneva Swiss. Maret 1989 Tim memperkenalkan WEB dan HTML sebagai standar antar muka distribusi informasi di Internet yang mampu menggabungkan teks, grafik dan multimedia dengan metode navigasi menu pada mesin UNIX.
HTML adalah bahasa kode pemrograman yang menjadi dasar bagi terwujudnya WEB. Dengan HTML seluruh sistem komputer yang saling berbeda dapat mengenali format2 yang ditampilkan dalam situs2 Internet tanpa perbedaan yang berarti, termasuk didalamnya penampilan multimedia (grafik, suara dan citra video). HTML berbasis teks yang sangat sederhana dan praktis sehingga dapat dipahami oleh berbagai jenis komputer dalam platform sistem yang berbeda.
Dokumen HTML mengandung perintah2 teks yang disebut tag untuk menampilkan tulisan, gambar, warna, suara, video, animasi dsb. serta link yang menghubungkan berbagai topik. Dengan bentuk hypertext maka halaman Internet (Web Site – Kios Internet) akan dapat dibangun dengan cepat serta ditampilkan dengan cantik. Dalam konsep hypertext ini pembacaan suatu dokumen tidak harus urut namun bisa meloncat antar topik bahkan di print maupun dicopy ke media penyimpan lokal (harddisk misalnya). Format hypertext juga memungkinkan pemakai mesin yang hanya bisa mengenali teks untuk mengakses dokumen dalam bentuk teks saja. Perbedaannya hanya terletak pada tidak ditampilkannya gambar, grafik, animasi, video, suara dan warna.
Browser WEB
Atas bantuan National Center for Supercomputing Applications (NCSA), Mei 1993 standar ini diwujudkan dalam bentuk software yang disebut MOSAIC. MOSAIC adalah browser pertama WEB dan diaplikasikan multiplatform UNIX, NeXT, Windows dan Macintosh. Browser adalah program penterjemah HTML menjadi tampilan WEB (teks, grafis dan multimedia) di layar komputer pemakai. Kreator MOSAIC adalah Mark Andreesen, pada tahun 1994 bergabung dengan Jim Clark yaitu salah seorang pendiri Silicon Graphics. Mereka kemudian membuat browser WEB komersial pertama yaitu Netscape Navigator yang dengan segera menggeser popularitas MOSAIC. Hingga saat ini Netscape adalah browser paling populer dan menjadi pelopor dibidangnya.
WEB, Internet dan Perkembangannya
Januari 1992 pengguna Internet membentuk The Internet Society yang mempromosikan Internet. Tahun 1994 CERN dan MIT membentuk World Wide Web Consortium (W3C) sebagai otorita tunggal bagi pengembangan WEB serta berwenang menetapkan berbagai standar di dalamnya. Awal dekade 90-an, WEB site (pusat informasi berbasis HTML di Internet) hanya berjumlah sekitar 50 buah URL (Uniform Resource Locator – sistem pengalamatan kios informasi di Internet) dan hanya berisi teks saja.
Menurut Andrew S. Tanenbaum (1996) : akhir 1990 telah berkembang menjadi 3 ribu jaringan dan 200 ribu komputer. Tahun 1992 host kesatu juta terhubung ke Internet dan tahun 1995 terdapat puluhan backbone, ratusan jaringan menengah regional, puluhan ribu LAN, jutaan host dan pengguna. Pertumbuhannya mencapa dua kali lipat setiap tahun (data penelitian Paxton, 1996). Kini WEB adalah antar muka paling populer di Internet yang mampu menampilkan tidak hanya teks namun juga grafik (gambar, foto, animasi), suara, video dan dimensi virtual (3D). Diperkirakan pada akhir 1998 telah lebih dari 10 juta WEB site dibangun oleh institusi pendidikan, bisnis, pemerintahan, media massa, hiburan, militer dan sebagainya dengan pengguna lebih dari 100 juta.
PERKEMBANGAN - TI
Perkembangan Teknologi Informasi / IT
Apakah kamu tau sudah sampai sejauh mana Perkembangan Teknologi Informasi (IT) di negeri Republik Indonesia kita tercinta ini?. akankah kamu selalu dapat mengikutinya..
Memang sudah seperti kita ketahui perkembangan IT di negeri sangatlah berjalan dengan signifikan, seperti bebagai macam produk hardware dan software yang sudah masuk dan dimiliki masyarakan kita, Internet yang accsessnya selalu ditingkatkan, seringnya diadakan seminar/pelatihan IT, sudah didirikannya pendidikan kejuruan yang berbasiskan teknologi informasi demi untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas di bidang tersebut dan banyak lagi yang lainnya.
Disamping itu, saat ini untuk mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai Teknologi Informasi dan Penerapannya sudah sayang banyak sekali di sediakan di internet, dan dapat diambil contoh ketika kita melakukan searching di google menggunakan keyword misalnya “cara membuat website pribadi” banyak sekali penyedia layanan yang memberikan tata cara pembuatan website secara gratis, yang dimana kita ketahui dulu untuk membuat sebuah website memerlukan biaya yang sangatlah mahal itupun hanyalah kalangan pemerintah dan perusahaan swasta level atas saya yang mau memilikinya dan si pembuatnya pun sangat terbatas sekali.
Sekarang jangankan si pembuat website, stable, plugin-plugin, fasilitas layanan yang berhubungan dengan untuk membuat website pun sangat banyak sekali tersedia dan banyak pula yang gratis. Apalagi saat ini kan banyak sekali produk-produk CMS / pembuat website secara instan tersedia, selain website saat ini sudah ramai yang namanya Blog yang tidak lain adalah singkatan dari Web Log, banyak sekali masyarakat yang sudah dan ingin memilikinya, di samping itu fasilitas dan layanannya pun sudah banyak sekali tersedia seperti wordpress.com, wordpress.org, blogger.com, multiply.com dan banyak lagi yang lainnya.
Adapun ditinjau dari segi penerapannya Informasi Teknologi saat sudah mulai diterapkan mulai dari bidang akademisi, pendidikan, pemerintahan, bisnis, sampai kalangan personal sudah sangat nampak perkembangannya. akan tetapi dapatkah kita lihat penerapan IT pada kalangan menengah kebawah di masyarakat, khususnya daerah di luar perkotaan?, sudahkah para petani / calon petani di ladang, atau peternak / calon peternak mendapatkan layanan berbasiskan IT dan cara penggunaannya??.. tahu kah merekan dengan Blogger? taukah mereka dengan google.com dan cara pakainya?.
Hal kecil seperti di ataslah yang perlu kita perhatikan sebagai pengikut umat perkembangan IT, karena dengan mampu menggunakan dan menerapkan IT, para petani / calon petani dapat mengetahui tata cara dan teknologi untuk berladang yang terbaru untuk meningkatkan kualitas padi dan sayur yang kita konsumsi sehari-hari.
Kemudian dalam hal ini siapa saja yang patut bertanggung jawab terhadap penerapan IT di negeri kita?
Apa saja yang perlu diterapkan dalam perkembangan IT terhadap masyarakat?
TI INDONESIA
Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia sampai dengan saat ini berkembang dengan pesat seiring dengan penemuan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi dan Komunikasi sehingga mampu menciptakan alat-alat yang mendukung perkembangan Teknologi Informasi, mulai dari sistem komunikasi sampai dengan alat komunikasi yang searah maupun dua arah (interaktif). Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia selalu mengadaptasi berbagai teknologi informasi hingga akhirnya tiba di suatu masa di mana pengunaan internet mulai menjadi ”makanan” sehari-hari yang dikenal dengan teknologi berbasis internet (internet based technology). Jaman dahulu sebelum berkembangnya teknologi, orang-orang Indonesia harus menempuh jarak yang jauh untuk mengantarkan sebuah surat atau pesan kepada orang lain, tetapi lain dnegan jaman sekaranga dan perkembangan itu sendiri di Indonesia dimulai dengan Satelit Palapa (9Juli 1976) yang memudahkan arus komunikasi dan teknologi, yakni telepon, fax, dll. Setelah itu perkembangan dilanjutkan dengan berkembanganya jaringan sellular, yaitu GSM pertama di Indonesia, yakni sebuah teknologi komunikasi bergerak yang tergolong dalam generasi kedua (2G). Menurut mentri riset dan tekhnologi (hatta rajasa), melihat hasil penelitian human indeks dari 150 negara, indonesia hanya ada di posisi ke 110. Sedangkan dari achievement technology, Indonesia menduduki nomer 61 dari 64 negara. Maka dari itu, Indonesia harus terus menerus berinovasi dan menghasilkan buah karya atau produk dari IPTEK, sehingga penanaman IPTEK terhadap anak-anak sebagai generasi penerus harus diupayakan sedini mungkin, sehingga pada masa yang akan datang Indonesia pasti akan dapat menyaingi negara-negara lainnya dalam hal teknologi.
· Untuk infrastruktur Internet di Indonesia, bagaimana menurut Anda kualitas layanan dan harganya?
Menurut kelompok kami, untuk infrastruktur Internet di Indonesia antara kualitas layanan dengan harga yang dibayarkan tidak sebanding. Mahalnya akses internasional ke jaringan internet selama ini menjadi pokok permasalahan mengapa pertumbuhan penggunaan akses internet menjadi sangat lamban. Dominasi pasar (khususnya operator telekomunikasi) dan kurangnya perhatian pemerintah menjadi faktor lain yang ikut menentukan pertumbuhan penggunaan jaringan internet tersebut.
Sekarang ini memang banyak pilihan yang ditawarkan berbagai perusahaan untuk mengakses jaringan internet, seperti dial-up yang masih menjadi mayoritas kebiasaan pengguna internet di Indonesia sampai layanan broadband menggunakan teknologi ADSL (Asymmetric Digital Subscribe Line).
Semua ini ternyata tidak menyebabkan penggunaan jaringan internet meluas, masuk ke dalam rumah-rumah. Kebiasaan menggunakan sistem dial-up, misalnya, untuk sebagai besar pengguna kita merasa sebagai lamban dan sangat mahal.
Sekarang ini memang ada layanan yang dikeluarkan PT Telkom yang menawarkan layanan yang disebut Speedy dengan memberikan fasilitas koneksi pita lebar (broadband) yang disebut memiliki kecepatan downstream 384 kbps dan upstream 64 kbps. Masalahnya, produk Speedy ini dengan harga sekitar Rp 450.000 per bulan dibatasi penggunaannya sampai 2 GB setiap bulannya. Kelebihannya akan dikenakan biaya tambah Rp 1.200 untuk setiap GB.
Angka ini adalah monopoli PT Telkom yang menyediakan infrastruktur dan akses ke jaringan internet. Pilihan lain adalah menggunakan jasa penyedia akses internet (ISP) lainnya, yang harganya menjadi lebih mahal karena harus menambah biaya akses infrastruktur bulanan ke PT Telkom sebesar Rp 200.000 dan biaya akses internet ke ISP antara Rp 275-600.000, tergantung paket pilihan.
· Apakah yang disebut dengan ‘kesenjangan digital’ ? Mengapa terjadi ? Bagaimana kondisinya di Indonesia ? Bagaimana solusinya menurut Anda?
Teknologi komputer, telekomunikasi diperkirakan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun peningkatan kualitas ini baru dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang saja. Ada “jarak/kesenjangan” yang timbul antara mereka yang memiliki kemampuan (skill) komputer & akses kepada teknologi dan yang tidak memiliki (The “have” & the “have not”). Kesenjangan digital (digital divide) sangat dirasakan tidak saja dalam kaitan paradoks kota besar dan kecil, kota dan desa, melainkan juga dalam suatu kota, Kesenjangan digital tersebut terjadi terutama sejak penggunaan Internet secara luas dan meningkatnya arus informasi yang sangat dominan, yang didukung platform Teknologi dan Sistem Informasi. Kesenjangan digital juga terkait dengan kesetaraan memperoleh peluang. Karenanya, sangat diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkecil kesenjangan itu.
Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa kesenjangan digital adalah perbedaan yang besar antara masyarakat yang dapat mengakses teknologi komunikasi, terutama internet dengan masyarakat yang tidak dapat mengakses teknologi.
Kesenjangan digital yang terjadi di Indonesia cukup besar, banyak daerah-daerah di indonesia yang belum dijamah oleh teknologi dan sistem informasi, seperti komputer dan internet. Termasuk juga orang-orang yang dapat mengakses teknologi tersebut masih sebagian orang saja.
Solusinya menurut kelompok kami seharusnya pemerintah indonesia lebih berkonsentrasi terhadap pemerataan dan memajukan pendidikan serta ekonomi. Karena seiring dengan berkembangnya pendidikan dan ekonomi di indonesia, maka masyarakat di indonesia akan lebih mudah untuk mengikuti perkembangan teknologi. Karena dengan mengikuti perkembangan teknologi dibutuhkan tingkat pendidikan yang cukup untuk mengoperasikan teknologi tersebut dan membutuhkan kesejahteraan ekonomi yang memadai untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi.
copi paste dari : pertekkom.blogdetik.com
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI
Kita selalu mendambakan kesederhanaan dari teknologi informasi, tetapi sering kali kita tidak mendapatkannya.”
Sebagian besar dari teman-teman tentu masih ingat pada fenomena Mak Erot yang sampai-sampai dibikin film komedi. Atau, kita semua tentu tahu mengenai fenomena dukun cilik Ponari. Dari berbagai fenomena ini dan yang serupa lainnya, muncul sebuah pertanyaan, mengapa sesuatu yang sudah jelas tidak berhasil (bahkan secara medis tidak dapat dipertanggungjawabkan), masih terus laku. Pada akhir pemikiran, fenomena ini menyadarkan bahwa menjual mimpi memiliki daya jual yang sangat kuat (begitu kuatnya sampai bisa mengalahkan akal sehat). Dan ternyata, kalau mau melihat lebih jauh, teknik penjualan seperti ini telah banyak diterapkan pada berbagai bidang dan profesi, mulai dari tukang obat jalanan sampai pada politisi kelas atas, termasuk perusahaan pemasok TI.
Mimpi terbesar dalam dunia TI, saya dapat katakan adalah kesederhanaan. Melalui teknologi kita semua berharap hidup kita menjadi lebih sedehana dan lebih mudah, khususnya teknologi informasi. Sayangnya, sering kali semuanya hanyalah sebatas mimpi. Sebuah mimpi yang membuat kita membeli produk dan menganut paham teknologi tertentu. Padahal, kenyataan saat ini tidaklah seindah mimpi. Teknologi TI sekarang ini masih sangat kompleks (terutama bagi pengguna pemula), ambil contoh komputer dengan beragam konsep dan softwarenya.
KONSEP. Salah satu konsep yang mengganjal para pemula adalah saving, sebuah konsep peninggalan beberapa dekade silam saat media penyimpanan masih superduper lamban dan komputer belum multitasking. Bayangkan saja, agak sulit untuk membuat para pemula menerima bahwa: apa yang diketik di layar, sudah dapat dilihat oleh mata, sebenarnya belum benar-benar “ada” sampai di-save. Rata-rata juga sulit untuk mengingatkan mereka supaya rajin melakukan save. Kita masih harus melakukan tindakan save ini karena banyak program juga belum memiliki fitur autosave.
Konsep lain yang juga dinilai membingungkan bagi pemula adalah folder atau direktori. Banyak di antara mereka yang hanya tahu menyimpan dokumen, tapi tidak tahu di mana (atau ke mana mereka akan mencari dokumen yang telah mereka simpan). Jangankan ditanya di folder mana, beberapa dari mereka juga tidak tahu apa itu hard drive apalagi untuk menjelaskan apa itu partisi drive. Mereka kadang hanya tahu satu hal: “menyimpan di komputer”.
SOFTWARE. Kalau berbicara tentang software, kita sama-sama tahu bahwa operating system seperti windows atau linux, maupun aplikasi seperti microsoft office atau open office, adalah software yang sangat kompleks, dibangun dari ratusan juta baris source code, memiliki ratusan fitur, dan (tentunya) ribuan bug. Penggunanya harus berjibaku meski sekedar untuk menguasai dasar penggunaannya saja. Belum lagi menguasai secara mahir penggunaan software-software ini, mereka sudah dibuat pusing dengan serangan spam, virus, atau malware lain dengan memanfaatkan bug yang dimiliki software dalam komputernya.
Java adalah contoh lainnya. Janji yang di usung oleh Java sebenarnya memberikan harapan akan dunia yang lebih sederhana dengan kehadiran bahasa pemprograman yang portable, aman, siap jaringan, dan bisa dipakai menggantikan bahasa tingkat rendah sekalipun. Kenyataannya, dari Java lahir banyak standar yang ribet. Impian akan portabilitas sepertinya semu, dan slogan “compile once run everywhere” ternyata menghasilkan “debug everywhere”.
Ada lagi yang terbaru, Windows 7. Setelah kehadiran Windows Vista yang kurang mendapat apresiasi pasar, Microsoft mengumumkan akan meluncurkan versi Windows terbaru yang menggunakan kernel baru yang kecil, MinWin. Di luar alasan teknis, sepertinya ini adalah respon dari adanya penolakan pasar terhadap tingkat kompleksitas yang tinggi. Mungkin sudah saatnya kembali menjual mimpi kesederhanaan pada pelanggan mereka. Sebuah mimpi betapa Windows yang baru nanti akan lebih kecil, lebih ringkas, dan tentunya lebih sederhana dari pada versi sebelumnya.
Sebuah kenyataan bahwa manusia selalu mengharapkan kesederhanaan. Bisa jadi memang disebabkan oleh otak manusia memiliki keterbatasan kapasitas dalam memproses informasi dengan tingkat kompleksitas maksimum tertentu pula. Di atas tingkat kerumitan tertentu, kita tidak dapat lagi memahami sesuatu “di luar kepala”. Semakin banyak hal yang kompleks, maka semakin terkuras kapasitas otak kita memahaminya. karena itu kita selalu mencari hal yang sederhana agar masih leluasa memahami hal lainnya.
Padahal dalam perkembangannya, segala sesuatu menjadi semakin kompleks. Jumlah transistor dalam chip telah meningkat dari 2.300 tahun 1971 menjadi setidaknya 2 milyar sekarang ini. Performa sebuah processor tidak lagi mengandalkan peningkatan clock speed, melainkan telah berubah menjadi multicore, sesuatu yang menuntut pemprograman multithreadhing (rasanya tidak perlu dijelaskan betapa repotnya pemrograman multithreadhing).
Sayangnya memang banyak produk TI yang tidak bisa menyembunyikan kompleksitas dari para penggunanya. Jadi, saatnya para vendor TI berhenti hanya menjual mimpi seperti penjual obat jalanan atau politisi, tetapi berusaha lebih keras mewujudkan impian akan teknologi informasi yang sedehana bagi kita para penggunanya.
copy paste dari : www.jurnalkampus.org
